Sabtu, 21 Juli 2018

SEKARANG ANDA PERLU ACTION!



Jadi Anda ingin menulis? Menulislah, apa pun bakat Anda, apa pun kesukaan Anda. Mulailah sekarang juga. Seorang remaja sering tiba-tiba menjadi penyair yang produktif ketika sedang jatuh cinta. la memompa kekuatan imajinasi, mengerahkan seluruh kepiawaian berbahasa, membuat pengandaian dan metafora, dan melahirkan setumpuk puisi. 

Seorang mahasiswa yang jatuh cinta juga tiba-tiba bisa menjadi penulis makalah yang produktif dan selalu siap menuliskan makalah atau tugas-tugas kuliah untuk orang yang sedang dia incar. 

Keduanya mungkin akan menjadi pemabuk ketika cinta mereka ditolak. Jika Anda ingin menulis karena mencintai dunia penciptaan, menulislah dalam suasana hati apa pun: ketika sedang jatuh cinta, ketika sedang patah hati, ketika sedang puyeng, ketika sedang bahagia, ketika sedang gelisah, atau bahkan ketika sedang tidak punya ide.

0, tunggu dulu! Bisakah menulis tanpa ide? Bisa saja, yang tidak bisa adalah menulis tanpa kemauan. Nanti kita akan sampai juga pada bagian tentang menulis ketika tak punya ide. Tentu saja setiap tulisan, seremeh apa pun, pasti mengandung ide. Dan, Anda tahu, ide tidak datang sendiri. Setiap penulis, sehebat apa pun ia, tidak pernah hanya ongkang-ongkang kaki di teras rumahnya, menunggu didatangi ide yang luar biasa. la tetap harus memancing datangnya gagasan itu, menangkap, dan mengembangkannya. Menulis apa saja ketika sedang tidak punya ide sebenarnya adalah salah satu cara untuk memancing datangnya ide. Prinsip menulis tak pernah berbeda dari hal-hal lain dalam hidup kita. la harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun. 

Seorang tukang kayu harus tetap menjadi tukang kayu yang baik kendati pikirannya sedang kalut. la tetap harus menyelesaikan pekerjaannya. Seorang bankir tetap bekerja sebagai bankir sekalipun sedang dihajar berbagai persoalan di rumahnya. Seorang polisi lalu lintas harus tetap berdiri di perempatan jalan mengatur latu lalang kendaraan, entah hatinya sedang sedih, bahagia, atau ketika sedang tidak punya ide. 

Begitu juga dengan pemain bulutangkis, pelayan restoran, atau tukang pos. Kenapa harus berhenti menulis hanya karena sedang puyeng atau sedang tertekan oteh suatu masalah? Kenapa harus berhenti menulis karena tidak punya ide? Apa jadinya jika tukang pos suatu saat menolak mengantarkan surat atau polisi lalu lintas tidak mau berdiri di perempatan jalan karena "tidak punya ide"? Karena itu, yang diperlukan sesungguhnya hanya action. Jangan biarkan pena Anda menganggur, mesin ketik Anda karatan, komputer Anda kosong melompong, dan kertas Anda menguning tanpa isi. Oke, satu... dua... tiga... menulislah sekarang juga. Dan jika Anda setuju terhadap seruan ini, saya ingin menambahkan lagi: menulislah yang buruk.

Sumber: Creative Writing, A.S. Laksana 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar