Jadi Anda
ingin menulis? Menulislah, apa pun bakat Anda, apa pun kesukaan Anda. Mulailah
sekarang juga. Seorang remaja sering tiba-tiba menjadi penyair yang produktif
ketika sedang jatuh cinta. la memompa kekuatan imajinasi, mengerahkan seluruh
kepiawaian berbahasa, membuat pengandaian dan metafora, dan melahirkan setumpuk
puisi.
Seorang
mahasiswa yang jatuh cinta juga tiba-tiba bisa menjadi penulis makalah yang
produktif dan selalu siap menuliskan makalah atau tugas-tugas kuliah untuk
orang yang sedang dia incar.
Keduanya
mungkin akan menjadi pemabuk ketika cinta mereka ditolak. Jika Anda ingin
menulis karena mencintai dunia penciptaan, menulislah dalam suasana hati apa
pun: ketika sedang jatuh cinta, ketika sedang patah hati, ketika sedang puyeng,
ketika sedang bahagia, ketika sedang gelisah, atau bahkan ketika sedang tidak
punya ide.
0, tunggu
dulu! Bisakah menulis tanpa ide? Bisa saja, yang tidak bisa adalah menulis
tanpa kemauan. Nanti kita akan sampai juga pada bagian tentang menulis ketika
tak punya ide. Tentu saja setiap tulisan, seremeh apa pun, pasti mengandung
ide. Dan, Anda tahu, ide tidak datang sendiri. Setiap penulis, sehebat apa pun
ia, tidak pernah hanya ongkang-ongkang kaki di teras rumahnya, menunggu
didatangi ide yang luar biasa. la tetap harus memancing datangnya gagasan itu,
menangkap, dan mengembangkannya. Menulis apa saja ketika sedang tidak punya ide
sebenarnya adalah salah satu cara untuk memancing datangnya ide. Prinsip menulis
tak pernah berbeda dari hal-hal lain dalam hidup kita. la harus tetap berjalan
dalam kondisi apa pun.
Seorang
tukang kayu harus tetap menjadi tukang kayu yang baik kendati pikirannya sedang
kalut. la tetap harus menyelesaikan pekerjaannya. Seorang bankir tetap bekerja
sebagai bankir sekalipun sedang dihajar berbagai persoalan di rumahnya. Seorang
polisi lalu lintas harus tetap berdiri di perempatan jalan mengatur latu lalang
kendaraan, entah hatinya sedang sedih, bahagia, atau ketika sedang tidak punya
ide.
Begitu
juga dengan pemain bulutangkis, pelayan restoran, atau tukang pos. Kenapa harus
berhenti menulis hanya karena sedang puyeng atau sedang tertekan oteh suatu
masalah? Kenapa harus berhenti menulis karena tidak punya ide? Apa jadinya jika
tukang pos suatu saat menolak mengantarkan surat atau polisi lalu lintas tidak
mau berdiri di perempatan jalan karena "tidak punya ide"? Karena itu,
yang diperlukan sesungguhnya hanya action. Jangan biarkan pena Anda menganggur,
mesin ketik Anda karatan, komputer Anda kosong melompong, dan kertas Anda
menguning tanpa isi. Oke, satu... dua... tiga... menulislah sekarang juga. Dan
jika Anda setuju terhadap seruan ini, saya ingin menambahkan lagi: menulislah
yang buruk.
Sumber: Creative Writing, A.S. Laksana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar